Skip to content

Pengetahuan Pertanian

August 3, 2008

Kondisi dan geografis Indonesia memiliki potensi bahan pertanian dan keperluan industri yang beragam, maka dinilai dapat memberikan kontribusi besar bagi pembangunan nasional dan berprospek sebagai salah satu sektor unggulan dalam memasuki abad 21 dengan keunggulan koperatif dan kompetitif yang dimilikinya untuk menghasilkan barang dan jasa. Usaha tani dapat diklasifikasikan atas :

(a) usaha tani gurem yang dicirikan oleh produksi hasil pertanian untuk keperluan sendiri, baik sistem berladang maupun sistem sawah, pekarangan yang ditanami komoditas untuk mendapatkan uang tunai dan halaman di sekitar rumah untuk berbagai keperluan diluar pertanian;

(b) usaha tani berorientasi komoditas niaga yang dicirikan oleh efisiensi penggunaan lahan dan tenaga, bersifat bisnis, tanaman industri, pemeliharaan ternak, pemeliharaan tanaman dan usaha pengolahan tanah.

Pertanian di dalam pengusahaannya dapat dikategorikan atas sistem pertanian sederhana dan sistem pertanian modern, dengan penekanan berbeda, yaitu berbasis pada tanaman dan hewan piaraan tanpa mengadakan usaha-usaha pemeliharaan tambahan dengan hasil rendah yang dilakukan petani gurem, tetapi dapat menciptakan keseimbangan dan mendukung kehidupan yang ada; berbasis pada suatu teknologi yang menggunakan subsidi energi yang tinggi, spesialisasi pertanian, serta di tempat tertentu hanya diusahakan tanaman dan ternak yang paling sesuai dengan keadaan lingkungannya oleh pengusaha atau dikenal sebagai pertanian dalam konteks sistem terpadu.

Usaha pertanian bersandar pada peristiwa fotosintesis yang menghasilkan berbagai bahan seperti bahan makanan, bahan sandang dan papan, sumber energi dan bahan baku yang bersumber dari tumbuhan atau tanaman dan hewan atau ternak bagi kebutuhan hidup manusia, baik digunakan secara langsung dan diubah bentuknya.

Dalam hal ini diperlukan lahan usaha, baik yang diambil dari suatu ekosistem alam dengan prinsip usaha pertanian bergeser (sistem ladang berpindah) dan mengubah lahan dalam bentuk yang diperlukan sesuai prinsip usaha pertanian menetap yang lestari, khususnya usaha pertanian campuran yang dinilai baik. Maka dalam prakteknya, kegiatan usaha pertanian dapat dikategorikan atas bentuk (pertanian besar dan pertanian rakyat, baik oleh perorangan maupun rumahtangga pertanian) dan subsektor (pertanian tanaman pangan, perkebunan besar dan perkebunan rakyat, kehutanan, peternakan dan perikanan).

Pengembangan sektor pertanian dalam mendukung industrialisasi pangan didasarkan pada pendekatan agribisnis, termasuk agroindustri yang dapat memperkuat kaitan mata rantai produksi, penanganan pasca panen, pengolahan dan pemasaran untuk meningkatkan nilai tambah hasil-hasil pertanian pada umumnya, maupun produk pangan pada khususnya. Untuk memenuhi hal tersebut, dikembangkan varietas-varietas yang dibudidayakan maupun yang masih ditangkap dari alam, dengan memperhatikan keterkaitan pelaku pembangunan di sektor pertanian dan tipologi teknologi pertanian yang diimplementasikan.

Dalam pengembangan usaha tani dibutuhkan dukungan paket teknologi pada tahapan produksi (pengolahan tanah sampai dengan pemberantasan hama dan penyakit), penen (waktu panen dan sampai dengan alat yang digunakan), pasca panen (pengangkutan sampai dengan masa simpan) dan pengolahan (pengecilan ukuran sampai dengan pengepakan), dalam rangka penguasaan pasar (mutu, harga dan pengiriman) yang tidak lepas dari prinsip ekonomi (prioritas sampai dengan keuntungan).

Dukungan dalam pengembangan usaha tani tersebut, dapat diwujudkan melalui Usaha Pertanian Kontrak (UPK). UPK adalah sistem pertanian kontrak antara petani dan unit-unit penampung atau pengolah yang paling populer di Indonesia adalah Perkebunan Inti Rakyat (PIR), Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI), Tambak Inti Rakyat (TIR) ataupun kegiatan agribisnis lainnya yang merupakan bagian dari globalisasi ekonomi. UPK dapat dilihat sebagai hubungan kerja dalam produksi antara petani dengan perusahaan inti, mekanisme pengalihan risiko dan tipologi berdasarkan keterlibatan inti dalam proses produksi, jenis kontrak, karakteristik dan skala usaha inti, serta ada tidaknya perjanjian tertulis.

Informasi lengkap tentang artikel ini dapat diperoleh pada buku Manajemen Industri Pangan karangan Musa Hubeis yang diterbitkan oleh Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta pada tahun 2007. buku ini tersedia di perpustakaan dan toko buku atau menghubungi penerbit di Kotak Pos 666 Jakarta 10001.

About these ads
2 Comments leave one →
  1. renthalina permalink
    January 12, 2011 6:45 am

    trimakasih infonya….

  2. Syarif Hidayat permalink
    June 18, 2011 4:10 pm

    Yth Bapak Musa Hubeis,
    Saya sedang menyusun paper perihal Nilai Tambah Agroindustri Kelapa Sawit.
    Pada saat meneliti beberapa paper terdahulu, ada yang menyebutkan bahwa bpk
    HUbeis mendefinisikan 3 tingkat rasio nilai tambah. Ketika saya cari pada rujukan
    pustaka, ternyata bahwa tidak dicantumkan rujukan dari bapak Hubeis ybs.
    Mohon kejelasan apakah bpk Musa HUbeis adalah nama Hubeis yang dirujuk
    sebagai tsb diatas.
    Bila betul, mohon apakah bapak dapat mengirim saya softcopy tulisan bapak
    yang mendefinisikan 3 tingkat rasio nilai tmabah tsb.
    Utk perhatian dan bantuan bapak saya ucapkan terima kasih.
    Syarif HIdayat
    Dosen di Prodi Teknik Industri – Univ AL Azhar Indonesia – Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: