Skip to content

Kajian Pengelolaan Usaha Kecil Menengah dari Segi Kelayakan Pemasaran dan Keuangan (Studi Kasus UKM di Bogor)

June 14, 2011

Pemberdayaan dan pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) membutuhkan bahasa (textbook thinking vs empiris : keberpihakan dan persepsi sebagai pihak yang memiliki potensi untuk dijadikan mitra) dan paradigma (usaha berjalan vs pengusaha) yang sama antara pemerintah (instansi teknis maupun Badan Usaha Milik Negara atau BUMN) atau pihak pemberi bantuan dengan para UKM atau pihak penerima bantuan, karena ketika krisis ekonomi melanda Indonesia, UKM telah membuktikan ketangguhannya dan menyelamatkan bangsa dengan membantu berputarnya roda perekonomian negara (Hubeis, 2009). Namun demikian, UKM di Indonesia pada umumnya masih tergantung pada karakteristik dari komoditas yang diusahakan, sehingga tidak berlebihan bila UKM di dalam perkembangannya tidak lepas dari berbagai kendala seperti teknis, teknologis, manajemen, pemasaran, sosial dan kelembagaan, informasi dan keuangan. Hal ini terkait erat dengan masalah mutu sumber daya manusia (SDM) dengan tingkat pendidikan terbatas (sebagian besar setingkat SD dan SMP) dan legalitas badan usaha yang dikelolanya, serta masih lemahnya keberpihakan pemerintah (Hubeis, 2005).

Untuk itu, pada kajian ini akan dilakukan penilaian, baik berupa pengamatan langsung maupun dokumen data informasi yang telah tersedia untuk merumuskan potensi UKM menurut segi kelayakan pemasaran dan keuangan industri kecil (IK) yang terdapat di Bogor, berdasarkan pendekatan klaster sebagai upaya pengembangan dan pertumbuhan ekonomi setempat yang dapat melibatkan banyak pelaku.

Tujuan kajian : (1) mengidentifikasi UKM di Bogor yang memiliki kemampuan mengembangkan pasar dan mengelola keuangan sesuai prinsip-prinsip akuntansi sederhana, (2) menganalisa UKM yang layak dibina dan diberikan pendampingan bagi perluasan atau pengembangan usaha, dilihat dari segi perluasan pasar dan penanganan keuangannya dan (3) menyusun strategi pemasaran dan keuangan yang sesuai bagi pengembangan UKM di Bogor.

Penelitian ini dilakukan di semua UKM yang ada di wilayah Bogor dengan kriteria bidang usaha makanan, minuman, kerajinan, pertanian, percetakan dan perdagangan logam. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, baik yang bersifat kuantitatif (statistik deskriptif berupa tabulasi) dan kualitatif (analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats atau SWOT kualitatif), serta integratif (analisis Qualitative Strategic Planning Matrix atau QSPM sebagai kelanjutan dari SWOT).

UKM di Bogor belum menerapkan promosi pada kegiatan pemasaran produk/jasa, dengan alasan penjualan masih di sekitar lokasi usaha bersangkutan. Hal lainnya : (1) menyatakan bahwa lokasi usahanya strategik, mengingat konsumen berada di wilayah yang sama dan kebanyakan kegiatan dilakukan di rumah tinggal; (2) omzet per hari responden UKM bervariasi, yaitu terendah Rp 100.000 dan tertinggi Rp 4.800.000, serta rataan Rp 737.450.Responden UKM yang bergerak di bidang usaha makanan, minuman dan pangan tersebut memiliki perputaran keuangan yang lancar, karena memang merupakan kebutuhan pokok sehari-hari, sehingga ada transaksi setiap harinya. Untuk UKM yang bergerak di bidang usaha kerajinan, percetakan perputaran keuangan lancar dan memperoleh keuntungan setiap harinya. Sedangkan untuk UKM yang bergerak di bidang pertanian (tanaman hias) perputaran keuangannya tidak lancar, karena produknya bukan merupakan kebutuhan pokok sehari-hari. Dari uraian tersebut hampir keseluruhan UKM tidak mengalami kesulitan dalam pengembalian pinjaman, walaupun cashflow kurang lancar. Hal lainnya, UKM yang dijadikan responden telah menerapkan sistem pembukuan sederhana di dalam melaksanakan kegiatannya dan telah menggunakan peralatan sederhana.

Berdasarkan aspek penjualan dari masing-masing UKM binaan di Bogor, UKM yang bergerak di bidang makanan/minuman dan pangan dapat dikatakan sudah mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan produknya, sehingga penjualan dapat berkelanjutan dan menutup biaya produksi. Untuk UKM yang bergerak di bidang pertanian (tanaman hias) belum dapat menerapkan penjualan untuk mendapatkan keuntungan, karena selisih hasil penjualan belum dapat menutup biaya produksi, sehingga dapat dikatakan hanya mengedepankan margin. Sedangkan UKM yang bergerak di bidang kerajinan dan percetakan mendapatkan laba dari hasil penjualan, sehingga dapat menutup biaya produksi yang dikeluarkan. Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa kondisi UKM yang bergerak di bidang makanan/minuman, pangan, kerajinan dan percetakan sudah dapat menutup biaya produksi yang dikeluarkan dengan hasil penjualan, sehingga layak mendapatkan pinjaman dari perbankan dan BUMN. Sedangkan untuk UKM yang bergerak di bidang pertanian (tanaman hias) belum layak untuk diberi pinjaman dari perbankan ataupun dari BUMN. 

Sumber keuangan utama UKM berasal dari pihak bersangkutan dan sumber lainnya yang berupa pinjaman untuk modal kerja dan investasi yang didapatkan dari BUMN, karena persyaratan cukup lunak dan dengan proses tidak terlalu sulit. Sebagai ilustrasi, UKM yang memiliki cashflow lancar dapat memenuhi kewajiban untuk melunasi pinjaman yang diberikan dalam waktu yang telah ditentukan. Namun demikian, secara umum UKM belum melakukan sistem pembukuan, tetapi pencatatan keluar masuk uangnya (pembukuan sederhana) sudah dilakukan dan bahkan UKM yang sudah pada tingkat usaha maju untuk melaksanakan sistem pembukuan dengan bantuan tenaga terlatih dari lembaga pendamping dari kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun Perguruan Tinggi (PT). Klasifikasi profil UKM binaan dilihat dari aspek keuangannya, memiliki omzet per hari terendah Rp 100.000, tertinggi Rp 4.800.000 dan rataan Rp 737.450; Beban per hari terendah Rp 50.000, tertinggi Rp 3.000.000 dan rataan Rp 474.000; Penerimaan per hari terendah Rp 25.000, tertinggi Rp 2.300.000 dan rataan Rp 263.450. Hasil ini sesuai UU UMKM/2008 yang menegaskan penjualan bersih tahunan Rp 300 juta – Rp 2,5 miliar.

Dari hasil SWOT didapatkan(1) alternatif strategi S-O (Strengths-Opportunities) terlihat pentingnya mempertahankan dan meningkatkan pengelolaan, khususnya terkait dengan aspek aspek permodalan dan perijinan dalam mengembangkan UKM, (2) alternatif strategi W-O (Weaknesses-Opportunities), perlu dilakukan upaya yang lebih konkrit dalam proses pengembangan dan pengawasan penyaluran kredit kepada UKM dengan berbagai pihak yang memiliki kemampuan dalam penyediaan modal seperti perbankan, BUMN, Pemda setempat dan usaha swasta besar. Selain itu, perlu adanya pelatihan SDM yang dimiliki UKM, agar organisasinya lebih terstruktur, baik dari segi pengelolaan keuangan dan peningkatan pemasaran melalui kegiatan sub kontrak produksi, maupun produksi secara mandiri, (3) alternatif strategi S-T (Strengths-Threats), perlu dilakukan evaluasi diri terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan UKM yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan pemasaran, melalui produk unggulan berbasis sumber daya lokal, yang nantinya berdampak pada peningkatan kemampuan keuangannya, terutama dalam penyediaan modal kerja dan keinginan melakukan industri baru maupun mempertahankan kapasitas produksi, (4) alternatif strategi W-T (Weaknesses-Threats), kiranya sudah saatnya UKM mampu memberdayakan potensi dan peluang-peluang yang mungkin dikerjakan dengan dukungan teknologi yang ada, disamping memanfaatkan bantuan dalam penyaluran kredit lunak dan kemitraan dengan pihak-pihak yang memiliki usaha besar (BUMN/D dan swasta besar) maupun pemerintah dengan berbagai program ekonomi kerakyatannya (program ekonomi usaha produktif, pemberdayaan UKM dan lainnya).

Dari matriks QSPM diperoleh 5 (lima) strategi yang paling menarik untuk diterapkan adalah mengembangkan produk unggulan UKM berbasis sumber daya lokal, dengan total nilai daya tarik paling tinggi diantara alternatif strategi lainnya (skor 5,655). Urutan prioritas strategi berdasarkan hasil analisis QSP adalah (1) mengembangkan produk unggulan berbasis sumber daya lokal, (2) mengembangkan kemitraan dengan usaha besar (BUMN/D dan swasta besar), (3) memanfaatkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan mutu produk dan produktifitas, (4) meningkatkan volume kredit UKM yang disalurkan melalui penetrasi pasar, (5) UKM membentuk asosiasi yang dapat memperjuangkan kepentingan skim kredit lunak. Dari semua alternatif strategi yang disusun, baik faktor internal dan eksternal, memiliki skor total > 2,5. Hal ini berarti semua strategi yang dikembangkan menarik dan layak untuk dikembangkan, dengan memperhatikan tingkat kesiapan (waktu dan tempat), kebijakan yang mendukung ditingkat pemerintah (pusat dan daerah), iklim usaha (perkreditan) dan keorganisasian yang ada (asosiasi).

___________________

Musa Hubeis. 2009. Kajian Pengelolaan Usaha Kecil Menengah dari Segi Kelayakan Pemasaran dan Keuangan (Studi Kasus UKM di Bogor) (Tidak dipublikasikan). PS MPI, SPs IPB. Bogor

About these ads
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: