Skip to content

Pengetahuan Industrialisasi Pangan

August 3, 2008

Secara holistik, industrialisasi tersusun atas faktor-faktor seperti sejarah, seni dan desain, ekonomi, pemasaran, teknologi, geografi dan dampak social untuk membentuk industri sesuai dengan kategorinya.

Industrialisasi sebagai kemampuan dalam mengkombinasikan sumber daya manusia (SDM), akumulasi modal dan teknologi telah dimulai pada jaman penjajahan Belanda melalui pabrik gula berskala besar di Pulau Jawa, lalu diikuti oleh periode mantan Soekarno (Presiden RI pertama : 1945-1967) dengan industri berskala besar seperti di negara-negara Barat, era mantan Presiden Soeharto ( Presiden RI kedua:1967-1998 ) dengan konsep industri hulu-hilir yang didukung oleh strategi substitusi impor dan kemudian beralih ke strategi industrialisasi berdasarkan promosi ekspor, serta di era pemerintahan reformasi adalah industri berbasis sumber daya lokal maupun strategi industrialisasi berbasis Usaha Kecil Menengah (UKM).

Industrialisasi pangan merupakan bagian dari pembangunan ekonomi nasional yang menyangkut aspek ketersediaan pangan, keamanan pangan, stabilisasi harga pangan dan peningkatan mutu pangan, mulai dari kegiatan produksi, pengolahan, distribusi dan pemasaran sampai kepada konsumsi di tingkat rumah tangga.

penanganan industrialisasi pangan dikatakan berhasil, bila didukung oleh sektor-sektor seperti pendidikan, pertanian, perindustrian, kesehatan, koperasi, perdagangan dan pelayanan jasa keuangan, serta dunia usaha yang menunjang. Dalam hal ini, pendekatan agribisnis berorientasi pasar yang terdiri atas sub sektor seperti agribisnis hulu, usaha tani, agribisnis hilir atau agroindustri dan penunjang merupakan suatu system penanganan yang diperlukan, diantaranya melalui suatu kemitraan antar produsen dengan pengusaha yang saling menguntungkan, saling menghidupi, saling memperkuat dan kesetaraan posisi untuk memenuhi kebutuhan pasar yang efektif, efisien dan berkelanjutan.

Secara filosofis, pengembangan industri menunjukkan suatu pendalaman struktur industri dan ke arah mana sektor industri akan dikembangkan (termasuk keterkaitan dengan sektor lannya), dengan mempertimbangkan dampak dari mekanisme pasar beserta daur hidup pengembangan industri unit kegiatan, pengertian dan jenis produk (barang/jasa) yang dihasilkan sesuai konsep International Standard Industrial Classification for all Economic Activities (ISIC), keterlibatan tenaga kerja yang aktif bekerja dan peran yang dibawakan oleh sektor industri pada umunya, serta pewilayahan industri.

Pengembangan industrialisasi pangan perlu didukung oleh instrumen kebijakan fiskal dan administratif, disamping menyadari tantangan dan eprmasalhaan yang muncul seperti Good Manufacturing Process (GMP), Hazzard Analysis Critical Control Point (HACCP), penggunaan bahan kimia, masalah halal dan haram, pelabelan gizi, kontaminasi mikroorganisme dan keracunan, serta kondisi ekonomi dunia. hal lainnya, pengembangan SDM bermutu melalui jalur pendidikan formal, pelatihan dan pengembangan di tempat kerja; penggunaan peralatan tradisional maupun modern dalam menghasilkan produk; dan penguasaan informasi yang bersifat umum maupun khusus.

Peluang, tantangan dan permasalahan dalam industrialisasi di Indonesia dipengaruhi oleh perubahan lingkungan strategis dan belum pulihnya krisis multidimensi, serta adanya perkembangan paradigma-paradigma baru. Hal tersebut tidak terlepas dari misi yang diemban sektor industri sebagai penggerak utama proses industrialisasi dan sekaligus ujung tombak menghadapi globalisasi melalui keunggulan kompetitif yang didukung oleh struktur produksi dan distribusi yang kokoh berkelanjutan. Hal lainnya, perlu memperhatikan isu global dalam konteks perdagangan internasional, isu demokratisasi dan desentralisasi dalam konteks berusaha dan penyelenggaraan pemerintahan daerah, serta permasalahan dalam konteks kebijakan dalam negeri dan pengaruh internasional.

Pembangunan pertanian yang meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan peternakan diarahkan untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan bahan baku industri dalam negeri, serta meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja, mendorong pemerataan berusaha mendukung pembangunan daerah dan program transmigrasi. Hal tersebut perlu didukung oleh pertanian tangguh yang dicirikan oleh kemampuan memanfaatkan segala Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki secara optimal, mampu mengatasi segala hambatan dan rintangan yang dihadapi, petani yang mampu menyesuaikan pola dan struktur produksinya terhadap perubahan yang terjadi, pertanian yang mampu berperan positif dalam pembangunan pertanian dan pembangunan wilayah.

Pertanian yang tangguh dapat diidentifikasi dari kemampuan komponen seperti aparat pertanian, petani, lembaga ekonomi dan lembaga sosial/pedesaan yang sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya. Dalam hal ini, pembangunan industri pangan yang memiliki hubungan ke belakang kuat dalam pemanfaatan SDA dan sumber daya pembangunan lainnya, diharapkan dapat menciptakan keterkaitan erat antara sektor pertanian dan sektor industri. Oleh karena itu, kebijakan industri pangan diarahkan kepada keterkaitan antara industri pengolahan dengan SDA dan pemasaran, keterkaitan antara industri pengolahan dengan industri pendukung dan keterkaitan antara sektor industri dengan sektor ekonomi lainnya. Hal tersebut dijabarkan atas prioritas pengembangan dan pembangunan industri pangan berdasarkan sasaran kualitatif maupun kuantitatif yang difokuskan pada program dan langkah operasional pengembangannya.

Informasi dapat diperoleh melalui strategi pengembangan informasi secara internal maupun eksternal melalui sistem informasi berbasis komputer dan memanfaatkan jaringan informasi yang tersedia. Informasi disajikan dalam bentuk laporan yang terjadwal, atas per-mintaan, istimewa dan peramalan. Khusus untuk informasi mengenai teknologi, pada umumnya dititikberatkan pada informasi industri dan informasi keteknikan seperti informasi di bidang bahan mentah dan bahan baku, serta hasil-hasil setengah jadi, informasi di bidang teknologi, informasi mengenai hasil, informasi mengenai prasarana ekonomi, informasi di bidang hukum perindustrian, informasi di bidang masalah administrasi dan pengelolaan, informasi di bidang masalah keuangan dan informasi di bidang hubungan masyarakat.

Informasi lengkap tentang artikel ini dapat diperoleh pada buku Manajemen Industri Pangan karangan Musa Hubeis yang diterbitkan oleh Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta pada tahun 2007. buku ini tersedia di perpustakaan dan toko buku atau menghubungi penerbit di Kotak Pos 666 Jakarta 10001.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: