Skip to content

Uji Coba Alat Produksi Yoghurt Modifikasi

July 15, 2011

Membangun usaha kecil dan menengah (UKM) bidang pangan di Indonesia banyak tantangan dan kendalanya. Kendala dari akses pasar sampai permodalan sering menjadi tantangan untuk berkembangnya industri tersebut. Dalam hal ini, kepemilikan pengetahuan, keberanian dan kesungguhan untuk menghadapi pilihan dan tantangan yang ada di depan merupakan kunci keberhasilan pengetahuan UKM (BBC World Service Booklet, 2000). Pembentukan jiwa wirausaha memerlukan proses pembelajaran dengan melakukan sendiri usaha tersebut disamping pendidikan akademik yang didapatkan (Wiyandi, 2002). Penelitian ini menjadi hasil proses pembelajaran langsung berupa pembuatan sebuah model usaha dengan ukuran industri kecil menengah (IKM) berbasis rumah tangga yang menawarkan minuman bermanfaat kepada kesehatan (functional drink) yang akan dikembangkan, dengan cara membentuk kios-kios/tempat penjualan yang tersebar di tempat-tempat keramaian dan dibangun secara baku melalui cara waralaba (franchise) atau dibangun sendiri.

Tujuan penelitian ini (1) menganalisis kelayakan usaha pembuatan yoghurt berbasis alat produksi berkonstruksi kayu dan (2) mengembangkan alat produksi yoghurt berkonstruksi kayu tepat guna untuk skala UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). Dalam kajian ini digunakan metode analisa pengamatan dan analisis khi kuadrat, serta untuk mengetahui kinerja operasional kedai (tempat penjualan uji coba) dilakukan analisis biaya dan usaha dan pengamatan, serta evaluasi konsumen.

Hasilpercobaan tahap I : (1) aspek penilaian konsumen 46,6% puas; (2) harga yoghurt 66,7% wajar/sedang; (3) penilaian terhadap produk yoghurt adalah segi penampilan cukup(66,7%), kemasan cukup (53,4%), rasa cukup (46,7%) dan tingkat kekentalan agak kental (60%), (4) citarasa produk yoghurt meliputi strawberry 53,3%, terong belanda 40% dan blueberry 6,7%, (5) manfaat produk yoghurt 73,3% cukup bermanfaat; (6) kunjungan ke kedai yoghurt  46,7% akan datang lagi; (7) komentar dan masukan memuat kemasan masih standar, rataan menyukai rasa yoghurt yang ditawarkan, tetapi masih terlalu encer/cair, maka perlu ditingkatkan kekentalannya; (8) perhitungan kelayakan sederhana, penerimaan bersih Rp. 63.750. Untuk melunasi investasi alat yoghurt tipe sederhana (Rp. 1.500.000) dibutuhkan waktu + 24 kali produksi dengan kapasitas 6 l, tetapi bila produksi 18 l dapat disingkat lebih cepat (8 kali); dan tipe lengkap (Rp. 3.000.000) dibutuhkan waktu + 48 kali produksi dengan kapasitas 6 l, tetapi bila produksi 18 l dapat disingkat lebih cepat (16 kali). Dalam hal ini, didapatkan bahwa kedua tipe alat ini layak dikembangkan secara massal, dengan memperhatikan segmen pasar yang dituju dan volume produksi yang dipilih.

Hasil percobaan tahap II : (1) aspek penilaian konsumen 35% puas; (2) harga yoghurt 65% wajar/sedang; (3) penilaian terhadap produk yoghurt adalah segi penampilan baik(55%), kemasan kurang (65%), rasa enak (75%) dan tingkat kekentalan agak kental (55%); (4) citarasa produk yoghurt meliputi strawberry 45%, terong belanda 40% dan blueberry 15%; (5) manfaat produk yoghurt55% bermanfaat; (6) kunjungan ke kedai yoghurt 65% akan datang lagi; (7) komentar dan masukan memuat kemasan masih standar, rataan menyukai rasa yoghurt yang ditawarkan dan sudah agak kental; (8) perhitungan kelayakan sederhana menunjukkan penerimaan bersih Rp. 86.250. Untuk melunasi alat yoghurt tipe sederhana dibutuhkan waktu + 18 kali produksi dengan kapasitas 8 l, tetapi bila produksi 18 l dapat disingkat lebih cepat (8 kali); dan tipe lengkap (Rp. 3.000.000) membutuhkan waktu + 36 kali produksi dengan kapasitas 8 l, tetapi bila produksi 18 l dapat disingkat lebih cepat (16 kali). Dalam hal ini didapatkan bahwa kedua tipe alat ini layak dikembangkan secara massal, dengan memperhatikan segmen pasar yang dituju dan volume produksi yang dipilih.

Hasil percobaan tahap III : (1) aspek penilaian konsumen 48% puas; (2) harga yoghurt 72% wajar/sedang; (3) penilaian terhadap produk yoghurt adalah segi penampilan baik(64%), kemasan baik (80%), rasa enak (80%) dan tingkat kekentalan agak kental (64%); (4) citarasa produk yoghurt meliputi terong belanda 52%, strawberry 36% dan blueberry 12%; (5) manfaat produk yoghurt64% bermanfaat; (6) kunjungan ke kedai yoghurt  72% akan datang lagi; (7) komentar dan masukan memuat kemasan sudah baik didalam penyajiannya dan lebih menarik dari sebelumnya, rataan menyukai rasa yoghurt yang ditawarkan dan berharap dapat ditingkatkan lagi dan diperbanyak pilihan rasanya, serta sudah agak kental; (8) perhitungan kelayakan sederhana menunjukkan penerimaan bersih Rp. 180.000. Untuk melunasi investasi alat yoghurt tipe sederhana dibutuhkan waktu + 9 kali produksi dengan kapasitas 12 l, tetapi bila produksi 18 l dapat disingkat lebih cepat (6 kali); dan tipe lengkap (Rp. 3.000.000) dibutuhkan waktu + 18 kali produksi dengan kapasitas 12 l, tetapi bila produksi 18 l dapat disingkat lebih cepat (12 kali). Dalam hal ini kedua tipe alat ini layak untuk dikembangkan secara massal, dengan memperhatikan segmen pasar yang dituju dan volume produksi yang dipilih.

Untuk mengetahui perbedaan kelompok yang terdiri atas 3 (tiga) kelompok tahapan percobaan produksi yoghurt PS MPI berbasis temuan Musa Hubeis, dkk dilakukan dengan uji Friedman. Dari hasil pengujian secara parsial dengan uji Friedman didapatkan nilai khi kuadrat hitung pada konsumen laki-laki lebih kecil dari khi kuadrat tabel (14,238 > 5,591) (db = k – 1 = (3-1) = 2) pada nilai nyata 0,014 <  0,05 dan khi kuadrat hitung konsumen perempuan lebih besar dari khi kuadrat tabel (8,750 > 5,591) pada nilai nyata 0,119 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen laki-laki lebih menyukai produk yoghurt, karena adanya alasan meningkatkan daya tahan tubuh dan untuk wanita karena alasan diet, disamping daya tahan tubuh. Sedangkan dari hasil pengujian secara bersamaan, terlihat bahwa nilai khi kuadrat hitung lebih besar dari khi kuadrat tabel (12,333 > 5,591) dengan nilai nyata 0,030 < 0,05, artinya terdapat perbedaan minat konsumen (laki-laki maupun perempuan) terhadap ketiga tahapan yang ditawarkan. Hal ini menunjukkan bahwa uji coba alat produksi yoghurt temuan Musa Hubeis, dkk dengan ketiga tahapannya dapat dikembangkan dan direalisasikan secara massal, karena sebagian konsumen perempuan berpendapat bahwa produk yoghurt terbukti bermanfaat menghambat kadar kolesterol (penurunan berat badan/diet) dan pada konsumen laki-laki terbukti meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu minat konsumen terhadap alat ini semakin meningkat setelah produk yoghurt ditawarkan, karena harga alatnya murah dan mudah pengoperasiannya.

Strategi jangka pendek (1-2 tahun ke depan) adalah melakukan strategi relatif tidak terlalu menuntut banyak biaya riset, yaitu strategi produk, harga dan strategi promosi. Strategi 3-5 tahun ke depan ditargetkan untuk jangka panjang, misalnya pembukaan tempat penjualan baru dan membuka cabang sistem waralaba produk yoghurt temuan Musa Hubeis, dkk di lokasi strategik. Strategi ini memerlukan dukungan biaya, perijinan dan koordinasi khusus dalam penerapannya. Selain itu, strategi produk dengan melakukan inovasi baru dalam pengembangan produk ditujukan untuk jangka panjang ini memerlukan biaya dan riset khusus.

 ___________________

Musa Hubeis. 2010. Uji Coba Alat Produksi Yoghurt Modifikasi. (Tidak dipublikasikan). PS MPI, SPs IPB. Bogor

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: