Skip to content

Strategi Produksi Pangan Organik Yang Bernilai Tambah Tinggi Berbasis Petani

May 16, 2014

Pangan organik adalah pangan yang berasal dari suatu sistem pertanian organik yang menerapkan praktek-praktek manajemen dengan tujuan memelihara ekosistem untuk mencapai produktivitas berkelanjutan, melakukan pengendalian gulma, hama dan penyakit, melalui berbagai cara seperti daur ulang residu tumbuhan dan ternak, seleksi dan pergiliran tanaman, manajemen pengairan, pengolahan lahan dan penanaman serta penggunaan bahan-bahan hayati. Pangan organik adalah pangan/produk bebas bahan sintetis (pestisida dan pupuk kimia), tidak menggunakan bibit hasil rekayasa genetika (GMO, atau Genetically Modified Organisms) dan teknologi irradiasi untuk tujuan pengawetan produk (BSN 2010).

Pertanian organik adalah proses produksi pangan secara alami. Metode ini menghindari penggunaan pupuk kimia sintetik dan rekayasa genetika organisme untuk memengaruhi pertumbuhan tanaman. Ide utama dibalik pertanian organik adalah dampak minimum terhadap lingkungan. Moto dari petani organik adalah melindungi sumber daya bumi dan menghasilkan produk aman dan makanan sehat. Pendukung gaya hidup organik percaya bahwa makanan yang diproduksi dengan cara ini memiliki mutu dan nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan makanan yang diproduksi secara konvensional dengan kimia sintetik sebagai input pertanian (Living Organic 2009).

Garut sebagai daerah penghasil sayuran organik yang sudah  tersertifikasi layak untuk dijadikan tempat percontohan pengembangan sayuran organik di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Untuk itu perlu dilakukan penyusunan model difusi pengembangan produk pangan organik dan pembinaan pelaku usaha pertanian pangan organik. Pola pengembangan produk pangan organik ini bertujuan untuk menghasilkan produk pangan tersertifikasi, terdiversifikasi dan mempunyai nilai tambah tinggi. Pola pembinaan pelaku usaha pangan organik dilakukan karena melihat peran dan fungsi dari pelaku usaha yang terlibat dalam pembinaan produk pangan organik itu sendiri,  seperti pemerintah, perguruan tinggi dan perusahaan. Peran pemerintah dalam hal ini adalah memberikan dukungan mulai dari hulu (budidaya) sampai hilir (pasar) dalam kegiatan pengadaan dan pemasaran. Perguruan Tinggi berperan dalam memberikan konsultasi dan pendampingan secara kontinu dalam aspek tertentu (sesuai kebutuhan),  misalnya budidaya, teknologi pasca panen, bentuk lain yang relevan (diversifikasi produk) dan perusahaan berperan dalam memberikan bantuan dalam aspek permodalan dan manajerial, serta networking. Dalam mewujudkan pola pengembangan dan pola pembinaan dalam produk pangan  organik, terutama sayuran organik, maka dilakukan survei untuk melihat potensi permintaan dan penjualan sayuran organik di Jawa Barat. Selain itu juga dilakukan wawancara dengan pihak-pihak yang berwenang dalam kelembagaan untuk mewujudkan pengembangan sayuran organik di Indonesia, terutama di wilayah Garut, Jawa Barat.

Terdapat 3 jenis pertanian yang berkembang saat ini di Provinsi Jawa Barat, yaitu :

1.    Pertanian Konvensional

Pertanian konvensional di Provinsi Jawa Barat, khususnya Garut memiliki tingkat produksi dengan kontinuitas masih kurang untuk mencukupi permintaan luar negeri. Tatanan sosial di Garut sebagian besar adalah Tuan tanah dengan lahan yang luas, yang hanya memikirkan keuntungan besar tanpa memikirkan lingkungan. Disini peran petani sebagai mayoritas  hanya sebagai buruh/petani penggarap. 

2.    Pertanian Semi Organik

Sistem pertanian yang diterapkan oleh para petani maupun kelompok tani di Kecamatan Pangalengan adalah semi organik. Pertanian semi organik merupakan langkah awal dan secara gradual menuju pertanian organik. Permintaan pasar luar negeri seperti Singapura, Hongkong, Dubai dan negara-negara lain sebenarnya lebih menghendaki sayuran organik.

3.    Pertanian Organik.

Hasil pertanian organik yang ada saat ini adalah dalam bentuk daun sayuran dan buah. Hasil pertanian daun sayuran sudah berlangsung dengan baik, sementera itu bentuk buah sayuran belum terlalu banyak di produksi, karena waktu tanam yang lebih lama (lebih dari 30 hari). Pertanian organik di Provinsi Jawa Barat umumnya memiliki ciri-ciri berikut:

a.         Produksi umumnya terkendala dalam hal kontinuitas, karena lahan relatif kecil dan petani belum siap, cuaca yang tidak menentu, penyediaan bibit masih sangat sulit didapatkan, serangan hama dan penyakit, sehingga rolling tanaman diperlukan untuk meminimalkan serangan hama.

b.        Dalam hal pemasaran sayuran organik jarang ditemui di Garut, karena sayuran organik lebih banyak dipasarkan di Bandung dan Jakarta, serta produk masih sangat terbatas akibat kebutuhan masih sedikit, ongkos pemasaran masih sangat tinggi,  sehingga harga sayuran organik menjadi mahal, banyak saingan di tingkat pemasok, perijinan dan syarat-syarat untuk mendistribusikan produk ke Ritel masih sulit, kontrak tertulis dengan pemasok belum ada dan perbedaan harga yang tidak ideal dari petani-pemasok-ritel-konsumen, serta masyarakat saat ini belum sadar akan kesehatan. Indonesia masih belum bisa memaksimalkan pasar luar negeri, karena standarisasinya masih dirasakan kurang.

c.         Promosi sebatas promosi dari mulut ke mulut dan masyarakat belum sadar kesehatan. Jika overload, maka diberikan diskon dan kepada konsumen, sehingga sering rugi. Saat ini, promosi menggunakan kemasan label organik yang dikembangkan menguntungkan petani.

d.        Dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) pengetahuan dan pemahaman petani masih sangat kurang, karena kurangnya sosialisasi dari pusat/penyuluh, sehingga lebih memilih proses bertani yang sederhana dan praktis dan menghasilkan produk dengan cepat, serta  komitmen rendah dalam penerapan pertanian organik.

e.         Mutu masih kurang baik, karena tidak semua Standard Operating Procedure (SOP) yang ditetapkan telah dilakukan dengan baik.

f.         Sarana dan Prasarana masih tata ruang/pemetaan lahan pertanian terbatas dan belum ada yang mengolah pupuk organik, akibat kurangnya SDM.

g.        Penerapan teknologi pertanian yang berkembang saat ini adalah lahan tidak menggunakan Screen House/Green House, sehingga masih sangat rentan dengan serangan hama dan bibit yang digunakan belum murni dari bibit organik.

h.        Pelatihan dan pengembangan masih sangat kurang, sehingga perlu dilakukan pelatihan intensif.

i.          Permodalan dan Investasi lahan pertanian organik relatif tinggi. Saat ini bantuan baru diberikan oleh Dinas Pertanian Propinsi, tetapi Pemerintah Daerah setempat belum banyak memberikan bantuan.

 

___________________

Musa Hubeis, Mukhamad Najib, Herdiana Widyastuti, Nur Hadi Wijaya dan  2013. Prospek Pangan Organik Bernilai Tambah Tinggi Berbasis Petani (dipubilaksikan), IPB Press. Bogor

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: